Akuntansi SyariahSekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Majene
OpiniOpini5 menit baca

Sejarah Kampus yang Dilupakan

Setiap musim wisuda tiba, ribuan mahasiswa mengenakan toga hitam panjang dan topi persegi, berjalan dalam prosesi khidmat menuju panggung untuk menerima ijazah. Tidak banyak yang menyadari bahwa jubah yang mereka kenakan adalah warisan langsung dari pakaian para biarawan dan pendeta abad pertengahan. Di Eropa zaman dulu, mahasiswa bahkan mencukur rambut mereka agar tampak seperti rahib—tanda bahwa mereka berada di bawah perlindungan hukum gereja, bukan hukum kerajaan. Ritual akademik yang hari ini terasa sepenuhnya sekuler ini menyimpan satu fakta yang mudah dilupakan: kampus, sebagai institusi, lahir dari rahim agama.

The al-Qarawiyyin Mosque and University in Fez, Morocco

Menurut UNESCO dan Guinness World Records, Universitas al-Qarawiyyin di Fez, Maroko adalah lembaga pendidikan tinggi (kampus) tertua di dunia yang masih beroperasi tanpa henti sejak didirikan pada 859 M. Pendirinya, Fatima al-Fihri, adalah perempuan Muslim asal Kairouan, Tunisia, yang mewarisi kekayaan ayahnya, seorang saudagar, dan memilih membangun sebuah masjid sekaligus madrasah untuk komunitas Muslim di Fez. Dari mimbar masjid itulah al-Qarawiyyin tumbuh menjadi pusat kajian yang mengajarkan bukan hanya Al-Qur'an dan fikih, tetapi juga tata bahasa, astronomi, dan kedokteran. Satu abad kemudian, pola serupa terulang di Kairo: Masjid al-Azhar, yang dibangun oleh Dinasti Fatimiyah sekitar tahun 970–972 M, berkembang menjadi Universitas al-Azhar yang hingga kini tetap menjadi salah satu rujukan utama dunia Islam.

Pola yang sama muncul di Eropa, meski dengan wajah berbeda-beda. Universitas Bologna, yang lahir sekitar 1088 dari perkumpulan mahasiswa hukum, memang lebih bercorak sipil: sebuah serikat yang relatif independen dari kekuasaan langsung gereja, meski tetap berdiri di atas peradaban Eropa yang saat itu seluruhnya Katolik. Namun, Universitas Paris tumbuh persis dari sekolah katedral Notre-Dame. Izin mengajar di sana berasal dari kanselir katedral, dan status resminya diperkuat lewat dekret Raja Philippe Auguste (Parens Scientiarum) pada 1231. Di kampus inilah teologi disebut sebagai regina scientiarum, ratu segala ilmu, dan pemikir seperti Thomas Aquinas mengajar. Oxford dan Cambridge tumbuh dari akar yang tak jauh berbeda, komunitas klerus yang sama, otoritas gereja yang sama. Karena mahasiswa dianggap berada dalam yurisdiksi hukum gereja, bukan kerajaan, mereka pun mengenakan jubah panjang dan mencukur rambut layaknya klerus. Itulah cikal-bakal toga yang kita kenakan hari ini.

Fenomena tersebut bukan monopoli dunia Abrahamik. Jauh sebelum Bologna berdiri, di dataran Bihar, India utara, kompleks biara Buddha Nalanda telah tumbuh menjadi apa yang banyak sejarawan sebut sebagai universitas berasrama pertama di dunia, sejak sekitar tahun 427 Masehi di bawah patronase Dinasti Gupta. Ribuan biksu dan pelajar dari India, Tiongkok, hingga Asia Tenggara datang mempelajari logika, kedokteran, dan astronomi berdampingan dengan filsafat Buddha, sebelum kompleks itu dihancurkan dalam serangkaian serbuan sekitar tahun 1200.

Pola itu terulang lagi di benua Amerika, berabad-abad kemudian. Harvard, didirikan pada 1636, semula bertujuan mencetak pendeta Puritan bagi koloni Massachusetts. Lambang perisainya yang bersejarah pernah menyandingkan kata "Veritas" (kebenaran) dengan frasa Latin "Christo et Ecclesiae"—untuk Kristus dan Gereja—sebelum unsur keagamaan itu berangsur dilepas seiring sekularisasi kampus. Yale dan Princeton lahir dari dorongan yang serupa: mencetak rohaniwan terdidik bagi jemaat-jemaat di Dunia Baru.

Namun, sejarah tersebut bukan kisah yang sepenuhnya harmonis. Otoritas agama yang menumbuhkan ilmu pengetahuan juga kerap membatasinya. Galileo diadili oleh Inkuisisi Roma pada 1633 karena membela teori heliosentris. Di Andalusia, filsuf rasionalis Ibn Rusyd diasingkan oleh penguasa Dinasti Almohad pada 1195 dan sebagian karyanya dibakar setelah para ulama konservatif menudingnya membahayakan akidah. Justru dari ketegangan semacam itulah, berabad-abad kemudian, lahir gagasan modern tentang kebebasan mimbar akademik: keyakinan bahwa kampus perlu berjarak dari otoritas apa pun, termasuk otoritas agama, agar nalar bisa bekerja bebas.

Di Indonesia juga demikian. Bahwa tradisi pesantren telah lama menjadi lembaga pendidikan tinggi keislaman tertua di Nusantara, jauh sebelum universitas modern hadir. Dari akar itu lahir Sekolah Tinggi Islam di Jakarta pada 1945, yang berkembang menjadi Universitas Islam Indonesia pada 1948, lalu bercabang menjadi jaringan Institut Agama Islam Negeri—yang sejak awal 2000-an satu demi satu bertransformasi menjadi Universitas Islam Negeri dengan mandat keilmuan yang lebih luas. Di luar jalur negeri, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama membina puluhan universitas dari Sabang sampai Merauke, sementara berbagai gereja mendirikan kampus seperti Universitas Sanata Dharma, Universitas Kristen Duta Wacana, hingga Universitas Kristen Petra. Pola yang menghidupkan Fez, Paris, dan Nalanda seribu tahun silam kini hidup kembali di Yogyakarta, Surabaya, dan Ciputat.

Semua ini bukan ajakan untuk merindukan zaman ketika kampus tunduk pada otoritas agama, apalagi seruan agar kampus hari ini kembali diatur oleh rumah ibadah. Sekularisasi kelembagaan—terlepasnya kurikulum dan tata kelola kampus dari otoritas keagamaan tunggal—adalah pencapaian penting yang melahirkan kebebasan akademik seperti yang kita nikmati sekarang. Tetapi ada satu "benang merah" yang barangkali layak direnungkan dari sejarah panjang ini. Fatima al-Fihri tidak membangun al-Qarawiyyin demi peringkat universitas dunia. Para pendiri Harvard tidak menghitung tingkat keterserapan lulusan di pasar kerja. Mereka mendirikan tempat belajar karena yakin bahwa ilmu mengabdi pada sesuatu yang melampaui kepentingan praktis semata. Di tengah kampus hari ini yang kian diukur lewat peringkat, indeks sitasi, dan keterserapan alumni, sejarah religius perguruan tinggi mengingatkan satu hal sederhana: toga yang kita kenakan sekarang dulunya jubah yang dipakai untuk mengejar sesuatu yang dianggap suci. "Apa pun keyakinan kita hari ini, barangkali itulah yang paling penting untuk tidak hilang di balik toga."

Rujukan

  1. World History Encyclopedia — Fatima Al-Fihri and Al-Qarawiyyin University
  2. Wikipedia — University of al-Qarawiyyin
  3. Britannica — Al-Azhar University
  4. Britannica — University of Bologna
  5. The Conversation — Notre Dame Has Shaped the Intellectual Life of Paris for Eight Centuries
  6. Nalanda University — History and Revival
  7. Harvard Gazette — Seal of Approval
  8. Stanford Encyclopedia of Philosophy — Ibn Rushd (Averroes)
  9. Ensiklopedia Islam — Institut Agama Islam Negeri (IAIN)

Catatan opini Isi tulisan merupakan pandangan penulis dan tidak selalu mencerminkan sikap resmi program studi.

Jelajahi lebih jauh

Tumbuhkan perspektifmu bersama kami.

Lihat program studi